Berita-Cendana.Com- Jakarta,- Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menurunkan kemiskinan 2,6 persen bukan hanya menyesatkan, tetapi juga merendahkan akal sehat masyarakat. ‘Otak Kau Gelap Pung’.
Sejak kapan sekotak nasi senilai Rp 10.000 bisa mengangkat seseorang keluar dari garis kemiskinan? Ini bukan solusi, ini penghinaan terhadap rakyat miskin!.
Pemerintah mengklaim bahwa dengan anggaran Rp 171 triliun, sebanyak 82,9 juta orang akan menerima manfaat. Jika dibagi rata, itu berarti hanya Rp 2 juta per orang per tahun, atau sekitar Rp 5.500 per hari! Dengan uang segitu, apa yang bisa diubah?.
Harga satu porsi makan Rp. 10.000, sementara anggaran per orang hanya Rp 5.500 per hari. Artinya, tidak semua penerima akan mendapatkan makan gratis setiap hari.
Kemiskinan bukan hanya soal makanan! Orang miskin butuh uang untuk transportasi, pendidikan, biaya kesehatan, sewa rumah, dan kebutuhan lainnya. Memberikan sekotak makan siang tidak membuat mereka tiba-tiba keluar dari kemiskinan.
Jika sekadar makan gratis bisa menurunkan kemiskinan, mengapa program bantuan sosial lain seperti BLT, PKH, dan BPNT tidak pernah menurunkan angka kemiskinan sampai 2,6% dalam waktu singkat?.
Pemerintah selalu berusaha menggiring opini publik seolah-olah mereka sedang melakukan terobosan besar. Padahal, ini hanya akrobat angka!.
Pengurangan kemiskinan 2,6% berarti sekitar 7 juta orang tiba-tiba tidak miskin hanya karena makan gratis. Ini tidak logis dan menyesatkan!.
Program ini diklaim akan membantu petani dan peternak, tapi apakah mereka benar-benar akan mendapatkan harga yang layak dari program ini? Atau justru dana ini hanya akan mengalir ke pihak-pihak tertentu yang sudah siap di belakang layar?.
Bagaimana pengawasan terhadap program ini? Sejarah menunjukkan bahwa program bantuan seringkali penuh dengan korupsi, penyalahgunaan dana, dan distribusi yang tidak tepat sasaran.
*Menghina Logika Rakyat*
Mengklaim bahwa nasi kotak bisa menyelamatkan bangsa dari kemiskinan adalah penghinaan terhadap akal sehat dan kecerdasan rakyat Indonesia. Jika memang ingin menurunkan kemiskinan:
1. Ciptakan lapangan kerja yang layak, bukan sekadar membagi makanan.
2. Beri pelatihan dan keterampilan, bukan sekadar nasi bungkus.
3. Berantas korupsi dalam distribusi bantuan, jangan biarkan dana ratusan triliun menguap begitu saja.
Rakyat harus berpikir kritis dan tidak menerima klaim ini mentah-mentah. Makan gratis mungkin membantu mengurangi beban harian, tapi menurunkan kemiskinan 2,6%? Itu hanya omong kosong pemerintah yang ingin menutupi kegagalannya dalam menciptakan solusi nyata bagi rakyat miskin!.(*).
Posting Komentar